Jumat, 01 April 2011

Inspirasiana: Cara Gila Memanfaatkan Hutang

Cara Gila Memanfaatkan Hutang

Hutang itu mulia. Demikian jargon Miming Phang, pengusaha dan milyarder, pemilik (owner) indoprint Bandung, yang sukses besar karena pengalaman hutangnya. Hutang tak lagi menjadi momok yang harus dihindari, tetapi justru menjadi solusi dari problem bisnis yang dihadapi.

“Hutang pertama kali saya kepada Bank senilai seratus juta,” kata Miming dalam Seminar Rahasia Bisnis dengan Hutang di hotel Horison, Semarang, Rabu (12/1). Miming mengatakan, tutuplah hutang dengan hutang yang lebih besar lagi, tutup lagi hutang dengan hutang yang jauh lebih besar lagi, demikian seterusnya. “Hutang kedua saya senilai Rp 250 juta, padahal saya tidak punya apa-apa,” lanjut Miming. Lalu bagaimana cara mengembalikannya?

Mulanya, Miming dilarang melanjutkan kuliah oleh orangtuanya lantaran kendala biaya. Keadaan demikian membuat Miming mengurungkan niatnya melanjutkan studi ke perguruan tinggi. Garis hidup menentukan Miming untuk bekerja sebagai salesman. Selanjutnya, pertemuan dengan temannya membuat dirinya membeli ruko yang dimiliki temannya senilai Rp 120 juta dengan cara kredit Rp 2,3 juta per bulan. Nasib kembali tak berpihak kepada Miming, ruko begitu sepi tanpa pembeli karena memang tempatnya tidak strategis.

Penghasilan ruko senilai Rp 300 ribu per bulan amatlah mustahil untuk membayar angsuran rukon tiap bulan. Sebagai pengusaha yang gagal, Miming putus asa dan merasa bahwa ia harus memendam dalam-dalam niatnya untuk menjadi seorang pengusaha dan kembali menjadi salesman.

Pengusaha hanya membuat pusing dan tidak bisa tidur nyenyak berbulan-bulan, tiap hari dihantui angsuran yang amat besar, demikian perasaan Miming. Namun bermula dari keadaan demikian, justru membuat ia menjadi seorang milyarder.

Pertama, Miming memecahkan masalah dengan membicarakannya kepada oranglain. Walhasil, ia mendapat solusi agar membayar seluruh angsuran ruko dengan cara hutang di Bank lainnya dengan jaminan surat ruko. Sisa uang hutang yang dipakai melunasi angsuran dipakai untuk membeli mesin cetak senilai Rp 40 juta sebagai aset bisnis percetakan. Lantaran rukonya sulit dijangkau orang, hal wajib yang ia lakukan adalah memasang pamflet sebagai promosi.

Kedua, perputaran uang terus dipakai untuk berbisnis hingga menghasilkan beberapa mesin cetak. Hutang berkembang hingga senilai Rp 250 juta bersamaan dengan bisnisnya yang kian berkembang pesat. “Fokus pada bisnis anda, jangan fokus pada hutang anda,” jelas Miming tegas.

Ketiga, jika usaha lancar, investasikan uang anda dalam bentuk rumah atau emas yang dalam perjalanan waktu nominalnya makin bertambah. Dengan demikian, apabila bisnis tersandung risiko, rumah atau uang bisa jadi sebuah solusi. Bukan berarti rumah tempat tinggal yang dijadikan investasi.

Selanjutnya, aset kian melejit, hutang bisa diatasi dengan perputaran bisnis.
Akhirnya dengan modal hutang cara gila Miming, ia menjadi milyarder dengan kekayaan total Rp 4 milyar, pada waktu itu. Tentu sudah menjadi rahasia umum apabila kerja keras menjadi harga mati suksesnya para pengusaha.

Dalam berbisnis, ada siklus tindakan (action), lalu dalam tindakan bisnis pasti ada problem-problem penghalang bisnis. Sehingga perlu adanya evaluasi yang berbuah pada solusi. Demikian siklus bisnis yang diterapkan Miming. “Yang terpenting, fokuslah pada bisnis anda, jangan pada hutang anda, maka hutang akan menjadi solusi baik. Hutang itu mulia,” tutup Miming. (LIS)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar